Sungai Cimahi Adalah Sejarah dan Wajah Kota Cimahi

oleh -518 views

SUARAMUDA.co.id,-Setiap kali berada di komplek perkantoran Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi saya senantiasa meluangkan waktu berjalan kaki menelusuri Sungai Cimahi dari tempat parkir kendaraan roda dua di sebelah selatan Plaza Rakyat sampai tempat pengolahan air, dan terkadang sampai ujung batas komplek Pemkot Cimahi sebelah Utara.

Kawasan aliran sungai itu terbilang sepi karena jarang sekali para pegawai pemkot atau masyarakat dengan sengaja jalan-jalan di sana. Barangkali karena mereka sibuk dengan pekerjaan kantornya dan urusan masing-masing.

Bagi saya berada di pinggiran sungai itu punya kenikmatan tersendiri, terutama ketika mendengar gemercik air yang melangalir, hati terasa damai. Selain itu air Sungai Cimahi dikawasan pemkot tampaknya masih terjaga dari pencemaran limbah pabrik, walau sudah tidak sejernih, tidak sebening seperti di masa tahun 80 sampai awal tahun 90-an.

Terkadang saya melihat orang menambang pasir atau para petugas sedang membersikan sampah dan endapan tanah yang menghambat aliran air sungai. Di sana saya pun pernah melihat anak-anak berenang dengan telanjang bulat. Mereka begitu menikmati air sungai tanpa ada rasa ketakutan tergelincir atau terbawa arus, atau terserang penyakit gatal-gatal. Mereka bergembira bermain air dengan saling siram atau saling melempar dengan pasir sungai.

Semakin padatnya pemukiman penduduk di kawasan hulu sungai, pencemaran terhadap air Sungai Cimahi di kawasan Pemkot Cimahi tentu tak terhindari. Limbah rumah tangga setidaknya turut andil mencemari sungai tersebut. Namun saya menyakini pencemaran air di sungai itu tidak separah di hilirnya yang benar-benar padat dengan pemukiman penduduk dan membuang air limbah rumah tangga langsung ke sungai. Begitu pula air limbah dari perusahan pengolahan makanan atau induastri tekstil dan industri lainnya masuk ke sungai tersebut.

Bagi saya Sungai Cimahi adalah sejarah dan wajah Kota Cimahi. Sebagai sejarah diantaranya karena nama kota diambil dari nama sungai tersebut. Sungai Cimahi tepatnya berada di tengah-tengah dan membelah kota, bahkan komplek Pemkot Cimahi menghadap langsung ke sungai itu. Sebagai wajah, tentunya perawatan kebersihan sungai memberi citra positif dan negatif bagi kotanya.

Sungai itu seperti halnya tubuh manusia, dalam menjaga kelanggengan wujudnya (walau tidak langgeng) harus dirawat dengan sungguh-sungguh. Agar tetap kelihatan tampan, cantik dan segar secara fisik sungai itu harus didandani, juga segala hal penyakit yang menyelimutinya harus dimusnakan. Jika dibiarkan begutu saja, Sempadannya tidak terurus, segala unsur seperti limbah rumah tangga, limbah peternakan, limbah perusahan masuk ke sana, maka sungai itu akan kelihatan kusam, kotor dan menjijikan.

Wajah kota kelihatan buruk maka secara tidak langsung penilaian terhadap prilaku pribadi-pribadi atau masyarakat kota sendiri juga buruk.

Sebelum terlanjur memberi citra buruk, maka menjadi penting keberadaan Sungai Cimahi dijaga bersama dari hal keburukan. Khusus dikawasan komplek Pemkot Cimahi diharapkan ditata ulang sempadannya, dijaga kebersihan airnya, dan dapat dimanfaatkan oleh sumua lapisan masyarakat, baik masyarakat Kota Cimahi maupun dari daerah lainnya, bahkan para pelancong dari mancanegara. Sengai Cimahi sebagai sejarah dan wajah kota di tata sedemikian rupa hingga menawan dan rupawan, juga menjadi salah satu destinasi wasata alam, taman kota yang favorit dikunjungi wisatawan.

Sebagai pemikat kunjungan wisata sungai dan air bisa dihidupkan kembali kebudayaan sungai yang pernah tumbuh di tatar Sunda. Permainan tradisional susun batu sungai, papalidan/paparahuan (perahu-perahuan), ngagogo lauk (nangkap ikan dengan tangan), ucing sumput (petak umper dalam air), balalonan cai (permainan balon dari sarung di air) dan lain sebagainya. Plus digelan pula upacara adat atau pertunjukan yang berhubungangan dengan mitologi dan ritual air, diantaranya sudah beberapa kali dilakukan adalah Kirab Budaya Ngarak Cai dan Ngalokat Cai Cimahi.

Selain itu di kawasan Sungai Cimahi bisa didirikan pula warung-warung dadakan (tidak permanen) menjual kuliner tadisional. Sehingga sungai bukan saja dijaga dan terawat, juga menjadi kawasan ekonomi kreatif yang dapat tingkatkan pendapatan ekonomi masyarakat kota dan Anggaran Pendapatan Belaja Daerah. Akhirnya peraban di Sungai Cimahi hidup sebagaimana nenek muyang kita dulu fungsikan sungai-sungai besar seperti kawasan Sungai Citarum sebagai pusat pemerintahan (kerajaan), sekaligus tempat dan jalur berniaga.


Penulis:
Hermana HMT
Ketua Dewan Kebudayaan Kota Cimahi
Jum’at 05 Maret 2021
(Red)