Wadek 1 FISIP UNSIKA: Pilkades, Pertarungan Gengsi Tingkat Dewa

oleh -113 views
Wadek 1 FISIP UNSIKA: Pilkades, Pertarungan Gengsi Tingkat Dewa
Wadek 1 FISIP UNSIKA: Pilkades, Pertarungan Gengsi Tingkat Dewa

Wadek 1 FISIP UNSIKA: Pilkades, Pertarungan Gengsi Tingkat Dewa

SUARAMUDA.co.id – Tanggal 21 Maret 2021 merupakan tanggal sakral bagi seluruh masyarakat di 177 Desa di Kabupaten Karawang. Hari itu para calon pemimpin desa yang lolos (semifinal) uji publik panitia 11 sudah berada di final pertarungan gengsi tingkat dewa.

Suasana kebatinan elit Desa dengan masyarakat desa yang berpesta demokrasi gaya barat selalu menjadi perhatian menarik.

Pertama, Pergeseran modal sosial. Masyarakat desa yang selama ini terbiasa dengan budaya kebersamaan, kekeluargaan, musyawarah mufakat dan kesederhanaan hidup berubah cepat ketika pemilihan kepala desa.
Model pemilihan langsung menimbulkan Konflik terbuka antar pendukung calon. Adu gengsi status sosial berada pada jarak dekat, antar kerabat satu darah, antar tetangga sepermainan, antar sahabat sejak kecil dan antar tokoh yang dihormati. Konflik terbuka ini menjadi konflik tertutup berkepanjangan, bahkan tidak jarang sampai bertahun tahun lamanya.

Kedua, Pertarungan elit supradesa.
Magnet pilkades pun, membuat para elit supradesa melihatnya sebagai.peluang menancapkan pengaruhnya untuk tetap memiliki jaringan/network di desa. Para elit partai politik, pengusaha, pedagang bahkan penggiat hobi judi (botoh) pun memberikan dukungan dalam.berbagai bentuk.
Menariknya, dukungan mereka tidak pernah ke satu calon, tetapi kepada beberapa calon yang masuk.final, dengan menerapkan teori peluang dan pemeliharaan jaringan. Kecuali, kelompok botoh, mereka konsisten ke satu calon yang menjadi.andalan kemenangan pertaruhan (bukan pertarungan).

Ketiga. Rivalitas versus Realitas.
Pertarungan Pillades memerlukan modal (kapital) yang relatif besar, bahkan di beberapa desa diduga sampai bernilai milyaran. Adu amplop dan iming iming materil terjadi saat pilkades. Menariknya, Masyarakat desa (pemilih) ada yang juga yang mendapatkan nominal uang dengan perjanjian “jika kalah uang dikembalikan, jika menang uang dimiliki”

Baca Juga:

Uang besar yang menjadi biaya pertarungan tersebut terkadang tidak sebanding dengan realitas kondisi desa yang jauh dari adanya potensi yang bisa dioptimalkan untuk.membangun desa. Akhirnya, gengsi dan status sosial menjadi pertarungan tingkat dewa, mengalahkan rasionalitas dan realitas.

Tiga hal tersebut hanya refleksi realitas sosial pilkades, harapan sederhana masyarakat adalah pilkades nanti dalam situasi kondusif dan damai penuh dengan persahabatan dan persaudaraan.

Referensi:
Berbagai sumber, interview, dan informasi lapangan.

Penulis:
Dadan Kurniansyah. S.IP.M.Si
Wadek 1 FISIP UNSIKA
Karawang, 18 Maret 2021

(Red)